Senin, 09 November 2009

ARTICLE

Pendidikan anak usia dini

Mengacu Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 1 Butir 14 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Pendidikan dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah merupakan jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. yang harus dilaksanakan minimal 9 tahun

Pendidikan tinggi

Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Mata pelajaran pada perguruan tinggi merupakan penjurusan dari SMA, akan tetapi semestinya tidak boleh terlepas dari pelajaran SMA.

Materi pendidikan

Materi Pendidikan harus disajikan memenuhi nilai-nilai hidup. nilai hidup meliputi nilai hidup baik dan nilai hidup jahat. penyajiannya tidak boleh pendidikan sifatnya memaksa terhadap anak didik, tetapi berikan kedua nilai hidup ini secara objektif ilmiah. dalam pendidikan yang ada di Indonesia seharusnya berjalan diatas sistem tersebut agar Indonesia menjadi lebih baik.

Jalur pendidikan

Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada umumnya. Jalur pendidikan ini mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pendidikan tinggi.

Pendidikan nonformal

Pendidikan non formal meliputi pendidikan dasar, dan pendidikan lanjutan.

Pendidikan dasar mencakup pendidikan keaksaraan dasar, keaksaraan fungsional, dan keaksaraan lanjutan paling banyak ditemukan dalam pendidikan usia dini (PAUD), Taman Pendidikan Al Quran (TPA), maupun Pendidikan Lanjut Usia. Pemberantasan Buta Aksara (PBA) serta program paket A (setara SD), paket B (setara B) adalah merupakan pendidikan dasar.

Pendidikan lanjutan meliputi program paket C(setara SLA), kursus, pendidikan vokasi, latihan keterampilan lain baik dilaksanakan secara terogranisasi maupun tidak terorganisasi.

Pendidikan Non Formal mengenal pula Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai pangkalan program yang dapat berada di dalam satu kawasan setingkat atau lebih kecil dari kelurahan/desa. PKBM dalam istilah yang berlaku umum merupakan padanan dari Community Learning Center (CLC)yang menjadi bagian komponen dari Community Center.

Pendidikan informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri yang dilakukan secara sadar dan bertanggung jawab.

Jenis pendidikan

Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.

Pendidikan umum

Pendidikan umum merupakan pendidikan dasar dan menengah yang mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan oleh peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bentuknya: Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Pendidikan kejuruan

Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang tertentu. Bentuk satuan pendidikannya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).jenis ini termasuk ke dalam pendidikan formal.

Pendidikan akademik

Pendidikan akademik merupakan pendidikan tinggi program sarjana dan pascasarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu.

Pendidikan profesi

Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memasuki suatu profesi atau menjadi seorang profesional.

Salah satu yang dikembangkan dalam pendidikan tinggi dalam keprofesian adalah yang disebut program diploma, mulai dari D1 sampai dengan D4 dengan berbagai konsentrasi bidang ilmu keahlian. Konsentrasi pendidikan profesi dimana para mahasiswa lebih diarahkan kepada minat menguasai keahlian tertentu. Dalam bidang keahlian dan keprofesian khususnya Desain Komunikasi Visual terdapat jurusan seperti Desain Grafis untuk D4 dan Desain Multimedia untuk D3 dan Desain Periklanan (D3). Dalam proses belajar mengajar dalam pendidikan keprofesian akan berbeda dengan jalur kesarjanaan (S1) pada setiap bidang studi tersebut.

Pendidikan vokasi

Pendidikan vokasi merupakan pendidikan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu maksimal dalam jenjang diploma 4 setara dengan program sarjana (strata 1).

Pendidikan keagamaan

Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan dan pengalaman terhadap ajaran agama dan /atau menjadi ahli ilmu agama.

Pendidikan khusus

Pendidikan khusus merupakan penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif (bergabung dengan sekolah biasa) atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah (dalam bentuk Sekolah Luar Biasa/SLB).

Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup.

Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.

Banyak orang yang lain, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."

Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam -- sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka -- walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Kualitas pendidikan

Ada dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan, khususnya di Indonesia, yaitu:

  • Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini,interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
  • Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya yang merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan.

Tingkat Pendidikan

Kelas Usia
Taman Kanak-kanak
Kelompok Bermain 4
Kelompok A 5
Kelompok B 6
Sekolah Dasar
Kelas 1 7
Kelas 2 8
Kelas 3 9
Kelas 4 10
Kelas 5 11
Kelas 6 12
Sekolah Menengah
Pertama
Kelas 7 13
Kelas 8 14
Kelas 9 15
Atas
Kelas 10 16
Kelas 11 17
Kelas 12 18
Akademi/Institut/Politeknik/Sekolah Tinggi/Universitas
4 tahun(Sarjana) berbagai usia
2 tahun(Magister) berbagai usia
3 tahun(Doktor) berbagai usia

THE S.I.G.I.T


“Money making, money making…” chants the refrain of the eponymous new single from Indonesia’s answer to Wolfmother, SIGIT (or The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent). In a country seemingly ready to consolidate its place as a global power in the 21st century, it appears the rock’n’roll dream is alive and well in Indonesia, and ready for business.

On the face of it, Indonesia is an attractive market for both local and international music industry opportunists. A shade under 240 million, it’s the fourth most populous country on the planet – that’s mighty big fan club potential! Strategically it straddles two continents and has a strong history of trade between the rising powers of India and China, as well as Europe. It’s also right on the doorstep of Australia – perfect for inclusion on any tour itinerary through Australasia.

However, you don’t need to paddle too far to reveal a couple of ripples on your journey to Indonesian pop stardom. Firstly, the country is a complex collage of different ethnic and language groups spread over 17,508 islands. Secondly, it’s a largely rural and poor populous who have little – if any – disposable income to spend on music. And thirdly, like much of South East Asia, music piracy is a simple fact of life.

Toss in the fact that indigenous music makes up about 80 per cent of the local market plus a severe lack of tour infrastructure (venues, promoters, agents) and your all-conquering Indo-quest is looking a little sketchy (unless you have an amphibious tour bus and a multi-lingual tour manager).

But fear not, potential superstars – Indonesia is on the rise. There’s a growing middle class hungry for music and the Internet is slowly beginning to infect local social trends. Top Indo acts such as the hilariously raucous Changcuter and Jakarta’s exotic groovers White Shoes And The Couples Company are now expertly versed in the viral business of MySpace and other forms of social networking.

Indonesia appears ready to rock.

Indonesia is ready for people to have a go,” explains Jerry Soer, an Indonesian-born band manger and blogger for whothehell.net now living in Australia. “There are a lot of people throwing money around; people doing festivals. Some of them fail. But there’s opportunity.”

But before you go booking a two-penny flight to Bali on one of the many new discount airlines popping up in the region, there’re a few things you should know.

First up – surprise, surprise – the Indonesian music business operates in a completely different universe to the clinically studied Western model. So your first lesson: no music fan in their right mind is going to buy your CD or pay to see you in concert. That’s right, in Indonesia music comes – heaven forbid – free. Sure the average teenager may pay for a ringtone every now and again, but the general rule is you are not going to make a scant rupiah on music sales.

So, short of winning a karaoke quest, how do you make money? The answer is…cigarettes! No, we aren’t suggesting you enter the cigarette smuggling trade. But we are suggesting you get all-cozy with a cigarette company, as that’s where the humble Rupiah dwell in the gazillions.

A few significant players dominate the music industry in Indonesia: the record companies, major TV networks and a sponsor (more often than not a cigarette company). Record companies in Indonesia were doing 360-degree deals (recording, publishing, touring, merchandising, online enterprising) long before Live Nation entered the lexicon of the biz.

The record company – or a third party agent – usually brokers a deal between a television station and a sponsor. Basically the sponsor pays the cost, the record company provides the acts and the television station arranges the free-for-all gig and televises it live. And this happens on a weekly basis all throughout Indonesia. The sponsors get their message across, the TV station gets the cred, the artist gets paid and the punter gets a free night out. Everyone’s happy.

“It’s a very commercially driven industry and of course there are moral questions,” Soer explains. “But at the same time it makes the music freely available to a lot of people. People are used to free entertainment over there – a band has to be really good for you to pay money to see them.”

But Soer admits that too is slowly changing – namely in the electronic music market. International DJs touring Australia are increasingly including Bali and Jakarta club shows into their tour schedules, satisfying a hunger from the country’s growing middle class. These are largely low cost, low maintenance shows that are booked and paid for by the nightclubs, through European-based agents.

And where electronic music goes popular music eventually follows (jazz and hip hop are already hugely popular genres throughout the country). And that could mean a bright future for Indonesia as a major music market of tomorrow. In turn, Indonesian acts are already proving a popular curiosity in other markets around the globe – namely punk rock groups such as Superman Is Dead and SIGIT.

Soer agrees that it’s certainly a matter of ‘watch this space’ as Indonesia surges forward into the 21st Century. “I think there’s a great future,” he concludes. “What I would like to see in the future are artists stopping in Asia as part of an Australian tour. Like Singapore, Malaysia and Thailand, Indonesia is ready.”

So brush up on your Javanese, Minangkabau, Sudanese and Balinese…it’s time to roll.